Langsung ke konten utama

Lamunan Sebelum Tidur #1

Sebelum tidur 6 September 2026. 

Dulu, saya pernah menonton pertunjukan di tanah lapang milik warga. Tidak ada tribun, tidak ada kursi yang disusun rapi, dan tidak ada batas yang tegas antara panggung dan penonton. Kami duduk seadanya, mungkin di tikar, mungkin di tanah, mungkin berdiri di bagian belakang. Penontonnya tidak terlalu banyak, tetapi kehadiran pertunjukan tetap terasa. Ia hadir di tengah lapangan, di antara rumah-rumah warga, suara percakapan, anak-anak yang berlarian, dan orang-orang yang datang tanpa banyak persiapan. Tanah lapang itu bukan gedung pertunjukan. Ia tidak dirancang untuk menjadi panggung. Justru karena tidak dirancang itulah ruang tersebut terasa hidup. Pertunjukan tidak mengambil alih ruang; ia menumpang sebentar pada kehidupan yang sudah berlangsung di sana.

Saya kemudian teringat Saparan. Saya membayangkan orang-orang keluar dari rumah membawa tumpeng, ingkung, dan hasil bumi. Mereka berjalan melalui jalan desa, berkumpul di tanah lapang, menuju pendopo atau rumah tokoh desa, berdoa, makan bersama, kemudian kembali menyebar ke rumah-rumah. Tidak ada satu titik yang harus menjadi pusat dari seluruh peristiwa. Jalan menjadi bagian dari peristiwa, halaman menjadi bagian dari peristiwa, rumah menjadi bagian dari peristiwa, tanah lapang menjadi bagian dari peristiwa. Bahkan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain memiliki makna. Tubuh-tubuh bergerak dan ruang ikut bergerak bersama mereka. Kalau arsitektur adalah cara manusia mengatur hubungan antara tubuh dan ruang, maka Saparan seolah memiliki arsitekturnya sendiri: bukan arsitektur yang dibangun dari tembok, tiang, dan atap, melainkan arsitektur yang dibentuk oleh gerak warga, arah perjalanan, perjumpaan, makanan, doa, dan ingatan. Desa tidak menyediakan ruang untuk Saparan. Saparan justru membuat desa menjadi ruang.

Lalu saya membandingkannya dengan panggung-panggung desa masa kini. Dalam pertunjukan panggung modern, ruang biasanya dipersiapkan terlebih dahulu sebelum pertunjukan dimulai. Sebuah bidang dinaikkan, dibingkai, diterangi, diperkuat suaranya, kemudian penonton diarahkan untuk menghadap ke satu titik. Ada depan dan belakang, ada yang tampil dan yang melihat, ada pusat perhatian dan ruang yang harus dikesampingkan. Rigging berdiri sebagai kerangka, lampu mengarahkan mata, speaker mengarahkan suara, dan panggung mengarahkan tubuh. Semuanya bekerja dengan sangat presisi agar perhatian terkumpul pada satu tempat. Jika Saparan bergerak melalui desa, panggung justru mengumpulkan desa menuju dirinya. Jika Saparan membiarkan ruang menjadi bagian dari peristiwa, panggung mengubah ruang menjadi wadah bagi peristiwa. Saya mulai bertanya-tanya apakah perbedaan itu hanya soal bentuk arsitektur, atau sebenarnya menyangkut dua cara yang berbeda dalam mengalami kehidupan bersama.

Sebab ruang desa tidak pernah benar-benar kosong. Sebelum rigging berdiri, tanah lapang telah memiliki ingatan. Sebelum speaker dinyalakan, jalan telah memiliki suara. Sebelum lampu menerangi panggung, rumah-rumah telah memiliki cahaya masing-masing. Dalam Saparan, semua itu tidak perlu disembunyikan agar peristiwa dapat berlangsung. Bunyi sapi, kambing, kendaraan, percakapan, langkah kaki, suara anak-anak, angin, dan suara dari rumah-rumah justru menjadi bagian dari lanskap peristiwa. Penonton tidak sepenuhnya menjadi penonton; mereka adalah warga, tamu, pejalan, tuan rumah, pembawa makanan, pelaku ritual, sekaligus bagian dari ruang yang sedang berlangsung. Tidak ada dinding keempat yang benar-benar memisahkan kehidupan dari pertunjukan. Mungkin karena itulah sensibilitas ruang menjadi begitu penting: kita tidak hanya melihat pertunjukan, tetapi mengalami bagaimana pertunjukan terjadi di dalam kehidupan.

Kemudian saya teringat beberapa pertunjukan di desa masa kini. Rigging mulai didirikan di tanah lapang. Lampu-lampu panggung digantung tinggi. Speaker menghadap ke kerumunan. Panggung menjadi lebih besar daripada rumah-rumah di sekitarnya. Perlahan semua orang diarahkan ke sana. Apa yang sebelumnya tersebar di berbagai ruang dikumpulkan menjadi satu titik. Jalan yang dahulu menjadi bagian dari peristiwa hanya menjadi jalan menuju panggung. Halaman menjadi tempat parkir. Tanah lapang menjadi venue. Rumah-rumah menjadi latar belakang. Barangkali tidak ada yang salah dengan perubahan itu. Pertunjukan menjadi lebih megah, suara terdengar lebih jauh, cahaya menjadi lebih indah. Tetapi saya mulai merasa ada sesuatu yang perlahan bergeser: bukan hanya bentuk pertunjukannya, melainkan arsitektur pengalaman itu sendiri. Desa yang sebelumnya menjadi ruang yang menghidupkan peristiwa, perlahan menjadi ruang yang menampung pertunjukan.

Mungkin inilah yang dimaksud ketika saya merasa desa sedang diserang panggung. Bukan karena rigging, lampu, atau sound system itu sendiri merupakan sesuatu yang buruk, tetapi karena bersama perangkat tersebut datang cara tertentu dalam membaca ruang. Ruang harus memiliki pusat. Tubuh harus menghadap ke pusat. Suara harus diarahkan dari pusat. Cahaya harus menarik mata ke pusat. Dan akhirnya, pengalaman pun dipusatkan pada pusat. Di tengah logika industri pertunjukan, kita mungkin menjadi semakin mahir membangun panggung, tetapi semakin lupa membaca ruang yang menjadi tempat panggung itu berdiri. Kita lupa bahwa desa telah memiliki arsitekturnya sendiri, dramaturginya sendiri, bahkan musiknya sendiri sebelum pertunjukan dimulai. Maka sebelum tidur benar-benar datang, saya kembali pada bayangan orang-orang yang berjalan dalam Saparan, dari rumah menuju tanah lapang, dari tanah lapang menuju rumah, saling berpapasan, membawa makanan, berbincang, berdoa, dan berhenti sebentar untuk menyaksikan sesuatu. Apakah mungkin kita membangun pertunjukan yang tidak membuat desa menghadap ke panggung, tetapi membuat panggung belajar bergerak mengikuti arsitektur kehidupan desa?

Komentar